“Tidak! Aku tidak beruntung”
“Hei… Kamu kenapa>”
bapak-bapak disampingnya heran melihat tingkah konyol Sam.
“Ternyata gadis itu sudah
mempunyai kekasih” dengan mengusap mukanya lamat. Mengerjapkan matanya berat.
Dia mulai melonggarkan kancing kemejanya, dirasa panas mendera.
“kenapa tiba-tiba panas”
mengibas-kibaskan kemejanya dengan tangan kiri dan tangan kanan tetap setia
bergelantungan.
“Haha, baru segitu saja kamu
sudah mundur. Dasar anak muda. Aku turun dulu” Bapak-bapak itu kemudian
melenggang seraya menepuk pundak Sam.
“oh, stasiun berikutnya.
Terimakasih tuan. Hati-hati” Lambai Sam.
Beberapa stasiun kemudian
Sam turun. Melangkah gontai, Sebenarnya masih terlalu jauh untuk jalan kaki,
biasanya 3 hari dalam seminggu Sam naik bus. Tapi Sore itu Sam memutuskan untuk
jalan kaki. Senja sudah semakin menghilang, dia menerawang ke atas, langit
jingga sudah mulai berubah gelap dan lampu-lampu jalanan sudah berebut untuk
dinyalakan. Teringat gadis tadi, pertokoan di seberang menggodanya. Sam
melangkah cepat, dan memasuki toko buku yang entah dia sendiri tak pernah sadar
selama ini ada toko buku disana. Bahkan dia tidak begitu suka dengan buku. Dan
demi apa dia melenggang di bagian novel. Sejak kapan dia menyukai cerita romansa
bercinta> Bahkan dia selalu menyindir kakak perempuannya yang suka
menghabis-habiskan uang untuk novel, sekarang dia sedang apa>
“Dimana buku itu> Senja
Bercinta” Gumamnya, dengan terus mencari di rak-rak buku yang tak terhitung
jumlahnya. Sekitar sepuluh menit, Sam sedikit frustasi hingga akhirnya ada
gadis belia sedang memegang buku itu, Sam bertanya.
“Dimana kamu dapatkan buku
itu>”
“Aduh om, ini ada dirak novel
keluarga. Beli buat pacarnya ya” Goda gadis itu dan pergi.
Sam mati kutu disitu, ‘pacar’
batinnya berteriak. Aku bahkan tidak mempunyai teman dekat wanita. ‘Tapi aku
bukan Gay’ hatinya bergejolak dengan anggapan tentang lelaki berumur, single,
mempesona adalah gay.
“Apakah aku mempesona>”
Haha Sam menyeringai dirinya sendiri.
“Novel keluarga kenapa
judulya begitu>”
Ya, novel itu didapatkan Sam
ditumpukan buku dirak paling depan dari novel keluarga. Hatinya lega.
Sesampainya dirumah, kakak
perempuannya sedang berlinangan air mata didepan DVD ruang tamu.
“Hei.. kenapa kakak tidak
menontonnya dikamar> Bikin malu tau kalau ada yang datang. Aku saja terkejut”
“Diamlah Sam, pemeran
utamanya tenggelam di lautan pas senja” Dengan mengusap matanya pake tissue.
Senja, mendengar kata itu
Sam bergidik dan ikut duduk disamping kakaknya.
“Sedang apa kamu> Ingin
menggodaku> Sudah masuk kamarmu sana”
“Aku hanya penasaran, kenapa kakak sampe
segitunya>”
Kakaknya mulai menceritakan awal kisah film
percintaan yang menyedihkan ini.
“Seorang gadis senja yang selalu datang ke sebuah taman kota
di Venice. Dia membuat penasaran pemuda asal Mexico yang sedang berlibur seminggu
disana. (Sam sudah mulai memvisualisasikannya). Hari pertama, pemuda itu hanya
melihatnya. Hari kedua, pemuda itu berkenalan dengan gadis itu. Hari ketiga,
mereka memutuskan untuk pergi ke bibir laut Adriatik. Pemuda itu menyatakan
perasaannya, pemuda itu memberi sapu tangan jingga dengan hiasan bunga. Dan gadis itu mengatakan
“Cinta itu kata yang dikehendaki Tuhan kapan datangnya”. Hari keempat gadis itu
tidak datang ke taman saat senja. Pemuda itu bingung. Bahkan dia tidak tahu
rumah maupun kontaknya. Hari kelima, pemuda itu sudah menunggu di taman dari
pagi hingga senja. Tidak mendapati gadis itu, ada seorang ibu-ibu setengah baya
mengahmpirinya.
“Kamu menunggu gadis senja itu>”
“Iya”
“Dia tenggelam di Lautan Adriatik senja kemarin, makanya dia tidak
datang. Dia hendak mengambil sapu tangannya yang keseret ombak. Dia tidak bisa
berenang” Seketika hati pemuda itu teriris dan tegang, jantungnya berdegup tak
karuan. Sapu tangan itu darinya. Pemuda itu menangis karena merasa dialah
penyebabnya. Gadis cantik itu berakhir di Senja Adriatik. Sangat romantis. Tapi
begitu menyedihkan Sam. Dihari keenam, pemuda itu meninggalkan separuh cintanya
di Venice dan setiap taun datang ke bibir pantai menatap senja yang tak berdosa.
Hiks, , ,”
“Apakah cinta seperti itu
mungkin kak> Cinta pandangan pertama, kenapa harus senja>” Sam baru malam
ini merasa hatinya goyah dengan kata senja.
“Hei, cinta itu didatangkan
Tuhan. Tapi, pada mereka yang atas dasar rasa, bukan nafsu. Ingat Sam. Karena
pembuat naskahnya suka senja.”
“Ah, sudahlah aku kekamar
dulu. Hentikan tangisanmu kak. Kamu jadi terlihat jelek.”
“Ya! Dasar batu, patas saja
tidak ada gadis yang mendekatimu”
“Weeek, kakak juga”
Malam itu, sam mulai membaca
lembar-lembar pertama novel senja bercinta yang tak lama kemudian membuat
kantuknya tak dapat ditahan. Dia terlalu lelah.
Pagi itu dia terbangun, Sam
berangkat lebih awal. Di meja makan, Papa dan Mamanya sedang sarapan, sementara
kakaknya sudah beranjak ke perkebunan stroberi miliknya di sudut kota sana.
“Pagi Sam”
“Pagi Pa. Papa tidak ke kantor>”
Sam heran kenapa papanya tidak memakai kemeja rapi kantornya.
“Kamu masih belum ingin
bekerja di kantor papa, Sam>”
“Sam masih butuh waktu pa.”
“Sampai kapan Sam> Kamu
sudah tumbuh dewasa. Kamu mau terus-terusan jadi pegawai kantor orang lain>
Sementara papamu butuh” pembicaraan pagi ini teramat santai
“Lusa, Sam dapat proyek baru
pa, kalau saja tidak berhasil. Sam akan langsung menemani papa” Sam memakan roti
telur itu perlahan
“Sam, papa butuh ahli
pemasaran sepertimu. Papa yakin kamu sudah cukup ahli, dua tahun cukup kamu
bekerja di kantor orang lain bukan”.
“Iya pa, Sam tahu. Sam ingin
meyakinkan papa.”
“Papa sudah yakin Sam”
papanya meyakinkan Sam dengan menega kopi hangat miliknya.
“Hha, papa bisa saja. Sam berangkat
dulu pa. Ma, Sam berangkat.”
“Hati-hati Sam. Kamu jangan
terlalu focus kerja, carilah kekasih. Jangan seperti kakakmu yang masih terlalu
fokus sama kerjaan.”
“Iya Ma.”
“Kamu tak mau membawa mobil,
Sam> Tak tega melihatmu gelantungan di kereta.” Goda papanya.
“Papa jangan khawatirkan
Sam. Haha”
Sam melenggang pergi. Pagi
yang cerah, Sam berangkat dengan Bis kemudian Turun di Stasiun. Pagi ini dia
mendapatkan tempat duduk, karena memang dia berangkat lebih awal.
Betapa terkejutnya, setelah
melewati beberapa stasiun, gadis kemarin senja naik. Dan betapa terjerambabnya
dia, gadis itu duduk disebelahnya. Wangi vanilla itu tetap menggoda. Pagi ini
dia memakai celana panjang, kaos putih dan topi. Sepertinya dia suka warna
putih, kulitnya juga putih. ‘Cantik sekali’ batinnya.
Setelah beberapa menit
meneguhkan hatinya untuk bertanya, akhirnya Sam memberanikan dirinya.
“Kamu suka baca ya>”
Gadis itu sedikit terkejut
“oh, Hallo. Iya, cukupan
lah.”
Sam tidak menyangka ternyata
gadis ini ramah. Asyik juga.
“Aku kemarin melihatmu
membawa buku yang berbeda dengan hari ini”
“Wah, benarkah>
Perkenalkan, namaku Elen. Aku bisa baca buku satu sehari.” senyumnya riang
“oh.. oh A..aku Sam. Aku
selalu naik kereta, tapi baru kemarin melihatmu” Sam terbata gugup. Kembali
menguatkan jantungnya yang semakin berdegup.
“Ya, aku berkeliaran di
daerah sini baru dua mingguan. Kantor penerbit pindah. Jadi akupun ikut pindah.”
“Kamu seorang penulis>”
“Bukan. Aku hanya editor.
Kamu pasti pegawai”
“Iya, senang bertemu
denganmu, Elen. Tapi kita harus berpisah dulu. Sampai jumpa nanti sore yah”
Elen tersenyum, Sam beranjak dan tak sengaja menabrak pintu kereta listrik itu.
“Hati-hati, …Sam”
Perasaan Sam, membuncah.
Bagaimana bisa dia menabrak pintu kereta yang belum terbuka itu. Memalukan
sekali. Tapi, hatinya senang. Sam tahu namanya, Elen. Tapi, apakah laki-laki
kemarin itu kekasihnya> Hati Sam mulai rancu lagi. Bimbang seperti Ibu yang
takut kehilangan anaknya.
“Aku belum dapat kontaknya.
Nanti sore harus berjalan lebih baik. Berbicara santai dan tenang. Fyuuuh”. Sam
melangkah penuh semangat pagi ini.
“Syalala, dududu”…