3/09/2018

Ini akhirnya?




'Bisakah kita tidak mengakhirinya disini?'

Ini perasaanku yang sebenarnya ingin kusampaikan padamu siang tadi, disana. Tempat dimana kita memulainya dulu. Dan surprisingly we ended it there too. Bukankah itu plot twist?

Jauh sebelum ada kekhawatiran hubungan ini akan berakhir, aku ingin tempat itu menjadi tempat berbagi kebahagiaanku denganmu, saja. Tapi, sepertinya kamu tidak memiliki pendapat yang sama tentang tempat itu.

Ingatkah dulu kamu tiba-tiba datang ketika hujan datang begitu derasnya lengkap dengan dua payung, satu untukmu dan tentu saja satu untukku. Aku tidak bisa berkata-kata saat itu. Kuharap kamu ingat. Itu kali kedua kita bertemu setelah insiden rokku yang terbakar latu rokokmu. Kamu gelagapan mendapatiku menarik minuman dari tanganmu dan menyiramkan kopi itu ke rokku yang sudah berasap. Kamu kemudian meminta maaf dan mengantarkanku pulang.

Lalu bagaimana sekarang aku harus menghadapi hujan tanpamu? Aku percaya aku bisa menghadapinya, melewatinya seorang diri, tapi bagaimana aku bisa lupa? Bisa, mungkin. Suatu saat nanti.

Yang jelas aku tidak mengerti dengan kata-katamu.

“Sepertinya kita harus mengakhiri ini. Terlalu hambar.”

Sepertinya kamu hanya ingin mengakhirinya saja.

“Apakah memang tidak bisa diperbaiki?”

Kamu menggeleng. Bukankah itu artinya kamu memang hanya ingin mengakhirinya denganku. Mungkin perasaanmu padaku sudah hilang. Jadinya hambar. Sementara aku yang mengira semuanya baik-baik saja dibuat terkejut dengan kalimatmu. Kuharap kamu menjadi lebih bijak setelah ini.

Sampai jumpa lain waktu sebagai pribadi yang lebih kuat. Salam dari orang yang pernah jatuh hati padamu karena ketulusan dan paying birumu.


3/08/2018

Selamat Hari Perempuan



Apa arti tanggal itu? Bukankah dia sama dengan tanggal 8 lainnya? Tidak. Banyak sejarah dibalik tanggal itu. Banyak tragedi yang terjadi dibelakang tanggal itu. Banyak kisah yang disembunyikan dibalik tanggal itu. 

Lalu kapan saatnya mengungkap sejarah yang kadang sengaja ditutup-tutupi itu? Kapan menguak masa lalu yang selalu dianggap tak tahu diri terus menerus? Apa salahnya kita hanya ingin mengungkap sejarah? Bukannya ingin bertindak seenaknya sendiri. Bukannya ingin sok jadi pahlawan kesiangan yang bangun membawa misi kedamaian untuk peranakan manusia. Tidak. Ini hanya cerita lama sesungguhnya. 

Mari kita tarik benang panjang ke belakang, ke tahun 1908 dimana belasan ribu perempuan melakukan march di kota New York. Setelah sekian lama terjadi opresi terhadap kaum perempuan dan ketimpangan hak yang selalu terjadi di tempat kerja, bahkan mungkin hingga sekarang masih terjadi di daerah yang tidak terjamah. Bukan menyalahkan kaum lelaki atas paham patriarkinya. Ini tentang konstruksi masyarakat--bahkan perempuan itu sendiri--bahwa perempuan itu lebih rendah kedudukannya daripada laki-laki. Di segela lini kehidupan, seperti pendidikan, pekerjaan, ekonomi, politik dan bahkan kebebasan berpendapat. 

March yang dilakukan pada tahun 1908 tersebut menjadi titik balik para kaum perempuan untuk menyuarakan hak-hak yang sudah seharusnya mereka miliki. Hingga pada tahun 1913-1914 ada seorang perempuan dari Rusia bernama Sylvia Pankhurst yang akan mengampanyekan tentang hak perempuan di akhir Februari akan tetapi ditunda sampai 8 Maret, namun sayangnya dia ditangkap saat melakukan perjalanan melakukan aksi tersebut. 

Sampai pada beberapa puluh tahun setelahnya, UN di tahun 1975 merayakan Hari Perempuan Internasional/ International Women's Day untuk pertama kalinya dengan hari dan tanggal yang sudah ditentukan terkait tanggal-tanggal bersejarah.

UN telah berupaya bersama beberapa agensi dan organisasi nasional maupun internasional baik pemerintah maupun non-pemerintah dalam sidang dan menyuarakan hak-hak perempuan. UN memberikan porsi yang sama antara perempuan dan laki-laki dalam keterlibatannya untuk pertumbuhan yang berkelanjutan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya dalam scope global.

Jadi, para perempuan yang sudah diperjuangkan haknya oleh perempuan-perempuan terdahulu, tetaplah perjuangkan hakmu sebagai manusia. Jangan biarkan kekerasan kerap menimpa perempuan. Bahkan pada anak-anak yang tidak tahu-menahu salahnya. Masa ketika mereka bertumbuh justru mengalami kekerasan, jangan pernah biarkan itu terjadi.

Jangan biarkan perempuan terus menerus disalahkan perihal pemerkosaan yang terjadi. Bukan salah pakaian. Bukan salah keluar malam. Bukan salah anjing menggonggong. Bukan salah api menyulut. Tolong saling menjaga. Bukan saling menyalahkan. Korban pemerkosaan tidak hanya perempuan. Korban pemerkosaan bahkan memakai pakaian yang jauh dari unproper ketika mengalami kejahatan. Mereka memakai pakaian yang sangat sopan, tidak pulang malam, tapi masih ditikam. Jadi masih menyalahkan perempuan? Apa salah perempuan? Kenapa harus perempuan? Satu-satunya yang dirugikan adalah korban! Pelaku tidak pernah dirugikan. Kita tidak bertingkah sebagai victim atau kalian yang menyebutnya sebagai playing victim, NO! Ini nyata adanya yang dialami korban!

Mari saling menjaga!

#HappyInternationalWomensDay #SelamatHariPerempuan #Happy8thMarch #8March #Womensrightishumansright #Equality #Empowerment 

2/14/2018

Edisi Serakah

Ini bukan tentang kehilangan yang membuatku melarikan diri. Lebih dari itu. Ini bukan tentang kesedihan yang seolah kuhidu sendiri. Bukan! Ini tentang perasaannya yang memendam beban lebih besar selama ini, tanpa seorang pun tahu. 

Apakah mereka tahu betapa terlukanya aku saat ini? Padahal mereka menginginkan dirinya sendiri menjadi pusat dari tata surya. Aku tidak ingin melukai hati siapapun, tapi percayalah aku mendengarkannya. Masalah setengah atau seperempat bagian itu urusan belakangan, selama mereka masih dianggap sebagai tata surya yang semua harus bertumpu padanya. 

Aku tidak tahu mengapa menulis ini sekarang! Rasanya hatiku sedang dicabik-cabik. Darahku seolah sedang berhenti berdesir saking lelahnya. Tolong, aku menulis ini bukan karena siapapun. Aku menulis ini karena rasa rinduku untuk menulis tentang perasaanku yang belakangan ini diabaikan. Bahkan oleh diriku sendiri. Dia berhak untuk didengar. Dia berhak untuk mendapat pelukan dan kehangatan ketika sedang kedinginan dan dirundung rasa sepi. Bukan malah rajukan dan cerita pilu yang rasanya seperti rajam sembilu.

Ingin hatiku mengulang setiap hari-hari manis sebagai seseorang yang lebih tegar dari hari ini. Ingin diriku kembali ke masa dimana hari-hariku lebih membutuhkan permen loli daripada karya abadi sang pencipta hati.


5/11/2017

Rekasa Separuh Bulan

Begitu banyak hal yang tidak begitu penting dalam blog ini, begitu banyak nama pula didalamnya. Namun, ada satu nama yang selalu hadir baik saat ada wujudnya maupun tidak, Bulan. Hanya satu dua menit tiap malam mengamatinya. Tapi seolah dia mampu tersenyum baik dalam senang dan sedihnya.

Bulan mengajarkan hal-hal penting. Di awal bulan dia tidak punya apa-apa, tapi tidak lantas pergi. Dia selalu datang tiap malam, hingga penuh terisi. Rekasa separuh bulan yang luar biasa cantik membuat siapa saja terkagum melihatnya.



Di akhir bulan, dia memberikan semua apa yang dia miliki, untuk kebahagiaan. Dia tahu apa yang dimilikinya bukan berasal dari dalam dirinya melainkan dari sinar matahari milik sang maha segala. Tapi Dia tak mengapa meski sinarnya didapat dari matahari namun, bahagia yang dirasa makhluk di bumi membuatnya selalu merasa berarti.

Libi


Bolehkah aku singgah?

Apakah kau mendengar aku membisikkan namamu, merindumu disela nafasku?

“Plis, ini sudah dua tahun lamanya. Tidak bisakah kau melupakannya, Bi?”

“Yaampun sebegitu cintanya kamu sama dia, Bi?”

“Bi, kayak gaada yang lain aja lo inget-inget doi mulu!”

Sampai lelah aku mendengarnya. Tapi entah mengapa aku masih saja mengharapkanmu!

Bagaimana aku bisa lupa dengan caramu menyakitiku? Kau tidak pernah menyadarinya sebelum membuatku bersedih.

Malam itu,
Aku sedang membuat puding untuk kuberikan padamu keesokan paginya sekalian berangkat ke kantor, ketika kau menelponku.

-Halo, bi. . .- Suaramu terdengar parau seperti baru bangun tidur. Aku tersenyum seperti biasanya setiap mendengar suaramu memanggil namaku.

-Iya sayang?-

-Ada yang mau aku bilang ke kamu,- Lagi, mendengar kalimat tersebut senyumku semakin lebar saja dibuatmu malam itu memikirkan kamu akan melamarku seperti janjimu.

-Katakanlah-

-Hai, Libi...- Deg, rasanya jantungku mau lepas dari tempatnya. Ada suara perempuan. Siapa? Adiknya? Yang kutahu dia hanya punya adik laki-laki. Ibunya? Suaranya terlalu muda.

-Iya?- Suaraku terdengar sangat pelan, bahkan aku kesulitan bernafas.

-Sepertinya kamu harus pergi dari kehidupan Natan, dia barusan melamarku setelah kita menghabiskan dua malam bersama!- Saking tidak percayanya aku dengan apa yang barusan kudengar, aku terjatuh dan bersimpuh air mata.

Aku tidak sanggup berkata-kata, selain mendengarnya sampai selesai.

-Kumohon kamu mengerti dan tidak mengganggu kisah cinta kami lagi. Pergilah yang jauh. Daaaah muaaach.- Tangisku semakin pecah. Bisu tanpa suara. Tubuhku bergetar. Kepalaku tidak mampu untuk berpikir malam itu.

-Apakah kamu sudah mendengarnya, Bi? Selamat tinggal. Bahagialah.- Tepat setelah kau mengakhiri kalimatmu, sambungan telepon terputus. Bagaimana bisa kau menyuruhku bahagia sementara bahagiaku adalah bersamamu.

Hingga dua tahun berlalu. Aku tidak bisa lupa. Bagaimana kejamnya caramu memutus hubungan denganku. Bagaimana kamu menganggap aku hanya batu yang diam saja. Sekarang, bolehkan aku singgah? Menyubit sedikit kebahagiaan kalian!



Next! Wait next week!

Libi yang semakin kuat dan terlatih.

11/14/2016

My Best Friend Wedding

Wedding

Kamis, 21-01-2016 pukul 09.00 pagi, salah satu teman menggila saat duduk di bangku SMP sekaligus sahabat, resmi menjadi istri orang. Aku terharu. Dia sudah menyempurnakan agamanya dengan mengemban amanah menjadi seorang istri. Diberkati dan selalu melimpah rahmat untukmu, Put (Puput). Dimudahkan segala urusan. Kuat-kuat di ibukota.

Sore tadi, Mbak Andien dan Aku datang ke rumahnya. Karena satu dan lain hal kita berdua tidak bisa datang ke akad nikah dan resepsi pernikahannya. Jadi baru datang sore tadi.

Reuni bertiga setelah hampir empat tahun tidak bertemu. Sebenarnya kita adalah geng, mantan geng yang beranggotakan empat orang. Sayang, kita tidak bisa kumpul lengkap. Tapi gapapa, doa kita lengkap.

Kita membicarakan banyak hal.

“Put, kenapa kamu memutuskan untuk menikah?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Apa yang membuatmu begitu yakin, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah?”

“Konon katanya cinta itu tidak butuh alasan,” Jawaban Mbak Andien kemudian menggertakkan hatiku. *padahal gak punya hati*

“Tuh, Put. Cinta gak butuh alasan. Sama halnya dengan pertanyaan. Terkadang dia tidak membutuhkan jawaban.”

“Kamu butuh waktu berapa lama hingga akhirnya berani mengiakan semua ini?” Aku semacam menginterogasi pengantin baru saja.

“Sudah berapa lama pacarannya?” Tanya Mbak Andien kemudian.

Mbak Andien dan Aku semacam partner yang sedang menginterogasi saksi.
Kemudian Puput menjawab pertanyaan kita dengan satu kalimat.

“Kita sudah saling mengenal tiga tahun eh—” Belum selesai dia menjawab kita berdua sudah menyauti dengan jawaban yang sama.

Owalaaah pantas saja.”

Ternyata sudah lumayan lama mereka berdua saling mengenal. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter dan sifat masing-masing. Untuk merencanakan semuanya hingga mereka memantapkan hati satu sama lain. Membuat keputusan, dan bersedia memulai lembaran baru.

“Sudah jatuh hati dari pandangan pertama.” Jelas Puput sedikit malu-malu.

WOW! Dia sungguh berani. Mengambil keputusan hebat dalam hidupnya. It is no joke! Wedding is no joke.

Kemudian Puput menemui tamu yang lain. Mbak Andien dan Aku kemudian mendiskusikan hal-hal lain.

“Puput sudah banyak berubah ya, semakin dewasa.” Ucapnya pelan. “Atau kita yang aneh ya, gini-gini aja?” Kemudian kita berdua tertawa pelan.

Ternyata benar, semuanya sudah banyak berubah. Aku masih ‘gini-gini’ saja. Masih dengan gaya slengekan, tidak serius dan kurang realistis dan logis. Aku belajar banyak dari orang-orang disekelilingku.

Jika melihat pernikahan temanku ini, maka pernikahan bukanlah pilihan. Bukan memilih menikah atau tidak. Melainkan keputusan yang harus diambil setelah upaya dan usaha saling mengenal. Sehingga tidak ada kata ‘untuk apa lagi hubungan ini?’. Pasti mereka berdua sudah dipusingkan dengan banyak hal. Sudah mempertimbangkan macam-macam.

“Put kamu capek ya?” Tanya Mbak Andien saat Puput kembali bergabung dengan kami.

“Iya, capek banget.” Kemudian kita duduk berjajar. Ah rasanya menyenangkan sekali berkumpul seperti ini.

Rasanya kita masih seperti bertemu biasa, dia yang ceria sama dengan beberapa waktu lalu. Tapi tidak, semuanya berbeda. Dia sudah menjadi lebih dewasa dan memperhitungkan ini dan itu.

Sekali lagi selamat menempuh hidup baru pernikahan untuk temanku yang dari dulu hingga sekarang masih konsisten kecil dan imut, Puput.


-Sementara aku sudah seperti raksasa yang tiap pekan membesar. Melebar. Dan sejenisnya.-

11/04/2016

Bunga Liar


Bahkan musim sudah berganti. Sampai bunga liar saja sudah berlarian menebar aroma kehidupan. Sementara aku masih terkurung masa lalu. Masa ketika kamu memilih untuk pergi, meninggalkan aku dan keragu-raguanku.

“Waktu akan membuatmu lupa!” Katanya.

Yang benar saja. Kalau hati masih saja bergumam macam-macam, maka selama apapun itu tidak akan bertemu keikhlasan. Waktu tidak membuat lupa, aku lah yang seharusnya berusaha seiring berjalannya waktu.

***

“Sepertinya saya harus benar-benar pergi, sekarang.”

Aku akhirnya mengangkat kepalaku yang dari dua menit lalu tertunduk tak berani memandang wajahmu.

“Kenapa?” Ingin sekali menanyakan itu padamu tapi itu hanya tertahan di batas antara alam sadar dan alam bawah sadar.

“Karena kamu masih belum bisa menjawabnya, mungkin ini waktu yang tepat untuk saya.” Kamu mengucapkan kalimat keduamu dengan hati yang teriris. Aku bisa merasakan itu.

“Untuk apa? Pergi? Apa begitu melelahkan?” Lagi, pertanyaanku untukmu tak pernah benar-benar kutanyakan padamu.

“Mungkin ini waktu yang tepat buat saya untuk pergi. Biar kamu gak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Supaya kamu gak terbebani.” Senyumanmu diakhir kalimat semakin menegaskan kalau kamu dengan berat hati memilih untuk berhenti. Aku tahu kamu pasti sangat lelah.

“Maaf.” Justru satu kata pendek itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Bukan itu yang ingin saya dengar.” Kamu memandangku lamat-lamat.

Dengan pandangan matamu yang sendu, kamu menggenggam tanganku. Telapak tangan yang dingin. Kuharap hatimu selalu hangat. Seperti sejak pertama kali kita berjumpa.

“Kamu harus jaga kesehatan. Sempatkanlah tidur, meski hanya 3 jam. Jangan minum soda dan makan pedas terus. Saya tidak ingin kamu sakit.” Kamu masih menggenggam tanganku dengan telapak tangan dinginmu sementara aku dari tadi tak ingin mengalihkan pandanganku selain padamu.

“Maaf.” Lagi, satu kata pedih itu yang keluar dari mulutku.

“Sungguh bukan itu yang ingin saya dengar dari kamu. Saya tahu ada banyak yang ingin kamu sampaikan, tapi kamu masih ragu.”

“Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Daripada seonggok keragu-raguan yang bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanmu.”

“Meski yang saya inginkan adalah kamu?” Kamu tersenyum. “Tidak usah dipikirkan lagi pertanyaan saya. Dia tidak harus selalu dijawab.” Kamu melepas genggaman tanganmu. “Saya pergi ya?”

“Boleh saya peluk kamu?” Aku tak tahu kenapa aku melakukan itu padamu.
Kamu mengangguk.

Itu adalah pelukan pertamaku sekaligus terakhirku untukmu. Karena kamu kemudian pergi. Begitu jauh. Membawa kotak cincin yang tak pernah sampai padaku.

***

Kini aku merindukanmu. Kamu yang sejujurnya sudah tidak bisa dirindukan olehku. Maka aku akan terus diam bersama keragu-raguanku. Dan berharap bunga liar bersedia menghampiriku untuk berlarian dan menari bersamanya. Aku berharap aku akan bersemi lagi. Menepikan keraguan.

Terimakasih, untuk kamu yang tidak ingin aku sakit.

10/28/2016

10:19 PM