2/14/2018

Edisi Serakah

Ini bukan tentang kehilangan yang membuatku melarikan diri. Lebih dari itu. Ini bukan tentang kesedihan yang seolah kuhidu sendiri. Bukan! Ini tentang perasaannya yang memendam beban lebih besar selama ini, tanpa seorang pun tahu. 

Apakah mereka tahu betapa terlukanya aku saat ini? Padahal mereka menginginkan dirinya sendiri menjadi pusat dari tata surya. Aku tidak ingin melukai hati siapapun, tapi percayalah aku mendengarkannya. Masalah setengah atau seperempat bagian itu urusan belakangan, selama mereka masih dianggap sebagai tata surya yang semua harus bertumpu padanya. 

Aku tidak tahu mengapa menulis ini sekarang! Rasanya hatiku sedang dicabik-cabik. Darahku seolah sedang berhenti berdesir saking lelahnya. Tolong, aku menulis ini bukan karena siapapun. Aku menulis ini karena rasa rinduku untuk menulis tentang perasaanku yang belakangan ini diabaikan. Bahkan oleh diriku sendiri. Dia berhak untuk didengar. Dia berhak untuk mendapat pelukan dan kehangatan ketika sedang kedinginan dan dirundung rasa sepi. Bukan malah rajukan dan cerita pilu yang rasanya seperti rajam sembilu.

Ingin hatiku mengulang setiap hari-hari manis sebagai seseorang yang lebih tegar dari hari ini. Ingin diriku kembali ke masa dimana hari-hariku lebih membutuhkan permen loli daripada karya abadi sang pencipta hati.


5/11/2017

Rekasa Separuh Bulan

Begitu banyak hal yang tidak begitu penting dalam blog ini, begitu banyak nama pula didalamnya. Namun, ada satu nama yang selalu hadir baik saat ada wujudnya maupun tidak, Bulan. Hanya satu dua menit tiap malam mengamatinya. Tapi seolah dia mampu tersenyum baik dalam senang dan sedihnya.

Bulan mengajarkan hal-hal penting. Di awal bulan dia tidak punya apa-apa, tapi tidak lantas pergi. Dia selalu datang tiap malam, hingga penuh terisi. Rekasa separuh bulan yang luar biasa cantik membuat siapa saja terkagum melihatnya.



Di akhir bulan, dia memberikan semua apa yang dia miliki, untuk kebahagiaan. Dia tahu apa yang dimilikinya bukan berasal dari dalam dirinya melainkan dari sinar matahari milik sang maha segala. Tapi Dia tak mengapa meski sinarnya didapat dari matahari namun, bahagia yang dirasa makhluk di bumi membuatnya selalu merasa berarti.

Libi


Bolehkah aku singgah?

Apakah kau mendengar aku membisikkan namamu, merindumu disela nafasku?

“Plis, ini sudah dua tahun lamanya. Tidak bisakah kau melupakannya, Bi?”

“Yaampun sebegitu cintanya kamu sama dia, Bi?”

“Bi, kayak gaada yang lain aja lo inget-inget doi mulu!”

Sampai lelah aku mendengarnya. Tapi entah mengapa aku masih saja mengharapkanmu!

Bagaimana aku bisa lupa dengan caramu menyakitiku? Kau tidak pernah menyadarinya sebelum membuatku bersedih.

Malam itu,
Aku sedang membuat puding untuk kuberikan padamu keesokan paginya sekalian berangkat ke kantor, ketika kau menelponku.

-Halo, bi. . .- Suaramu terdengar parau seperti baru bangun tidur. Aku tersenyum seperti biasanya setiap mendengar suaramu memanggil namaku.

-Iya sayang?-

-Ada yang mau aku bilang ke kamu,- Lagi, mendengar kalimat tersebut senyumku semakin lebar saja dibuatmu malam itu memikirkan kamu akan melamarku seperti janjimu.

-Katakanlah-

-Hai, Libi...- Deg, rasanya jantungku mau lepas dari tempatnya. Ada suara perempuan. Siapa? Adiknya? Yang kutahu dia hanya punya adik laki-laki. Ibunya? Suaranya terlalu muda.

-Iya?- Suaraku terdengar sangat pelan, bahkan aku kesulitan bernafas.

-Sepertinya kamu harus pergi dari kehidupan Natan, dia barusan melamarku setelah kita menghabiskan dua malam bersama!- Saking tidak percayanya aku dengan apa yang barusan kudengar, aku terjatuh dan bersimpuh air mata.

Aku tidak sanggup berkata-kata, selain mendengarnya sampai selesai.

-Kumohon kamu mengerti dan tidak mengganggu kisah cinta kami lagi. Pergilah yang jauh. Daaaah muaaach.- Tangisku semakin pecah. Bisu tanpa suara. Tubuhku bergetar. Kepalaku tidak mampu untuk berpikir malam itu.

-Apakah kamu sudah mendengarnya, Bi? Selamat tinggal. Bahagialah.- Tepat setelah kau mengakhiri kalimatmu, sambungan telepon terputus. Bagaimana bisa kau menyuruhku bahagia sementara bahagiaku adalah bersamamu.

Hingga dua tahun berlalu. Aku tidak bisa lupa. Bagaimana kejamnya caramu memutus hubungan denganku. Bagaimana kamu menganggap aku hanya batu yang diam saja. Sekarang, bolehkan aku singgah? Menyubit sedikit kebahagiaan kalian!



Next! Wait next week!

Libi yang semakin kuat dan terlatih.

11/14/2016

My Best Friend Wedding

Wedding

Kamis, 21-01-2016 pukul 09.00 pagi, salah satu teman menggila saat duduk di bangku SMP sekaligus sahabat, resmi menjadi istri orang. Aku terharu. Dia sudah menyempurnakan agamanya dengan mengemban amanah menjadi seorang istri. Diberkati dan selalu melimpah rahmat untukmu, Put (Puput). Dimudahkan segala urusan. Kuat-kuat di ibukota.

Sore tadi, Mbak Andien dan Aku datang ke rumahnya. Karena satu dan lain hal kita berdua tidak bisa datang ke akad nikah dan resepsi pernikahannya. Jadi baru datang sore tadi.

Reuni bertiga setelah hampir empat tahun tidak bertemu. Sebenarnya kita adalah geng, mantan geng yang beranggotakan empat orang. Sayang, kita tidak bisa kumpul lengkap. Tapi gapapa, doa kita lengkap.

Kita membicarakan banyak hal.

“Put, kenapa kamu memutuskan untuk menikah?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Apa yang membuatmu begitu yakin, hingga akhirnya memutuskan untuk menikah?”

“Konon katanya cinta itu tidak butuh alasan,” Jawaban Mbak Andien kemudian menggertakkan hatiku. *padahal gak punya hati*

“Tuh, Put. Cinta gak butuh alasan. Sama halnya dengan pertanyaan. Terkadang dia tidak membutuhkan jawaban.”

“Kamu butuh waktu berapa lama hingga akhirnya berani mengiakan semua ini?” Aku semacam menginterogasi pengantin baru saja.

“Sudah berapa lama pacarannya?” Tanya Mbak Andien kemudian.

Mbak Andien dan Aku semacam partner yang sedang menginterogasi saksi.
Kemudian Puput menjawab pertanyaan kita dengan satu kalimat.

“Kita sudah saling mengenal tiga tahun eh—” Belum selesai dia menjawab kita berdua sudah menyauti dengan jawaban yang sama.

Owalaaah pantas saja.”

Ternyata sudah lumayan lama mereka berdua saling mengenal. Tiga tahun cukup untuk memahami karakter dan sifat masing-masing. Untuk merencanakan semuanya hingga mereka memantapkan hati satu sama lain. Membuat keputusan, dan bersedia memulai lembaran baru.

“Sudah jatuh hati dari pandangan pertama.” Jelas Puput sedikit malu-malu.

WOW! Dia sungguh berani. Mengambil keputusan hebat dalam hidupnya. It is no joke! Wedding is no joke.

Kemudian Puput menemui tamu yang lain. Mbak Andien dan Aku kemudian mendiskusikan hal-hal lain.

“Puput sudah banyak berubah ya, semakin dewasa.” Ucapnya pelan. “Atau kita yang aneh ya, gini-gini aja?” Kemudian kita berdua tertawa pelan.

Ternyata benar, semuanya sudah banyak berubah. Aku masih ‘gini-gini’ saja. Masih dengan gaya slengekan, tidak serius dan kurang realistis dan logis. Aku belajar banyak dari orang-orang disekelilingku.

Jika melihat pernikahan temanku ini, maka pernikahan bukanlah pilihan. Bukan memilih menikah atau tidak. Melainkan keputusan yang harus diambil setelah upaya dan usaha saling mengenal. Sehingga tidak ada kata ‘untuk apa lagi hubungan ini?’. Pasti mereka berdua sudah dipusingkan dengan banyak hal. Sudah mempertimbangkan macam-macam.

“Put kamu capek ya?” Tanya Mbak Andien saat Puput kembali bergabung dengan kami.

“Iya, capek banget.” Kemudian kita duduk berjajar. Ah rasanya menyenangkan sekali berkumpul seperti ini.

Rasanya kita masih seperti bertemu biasa, dia yang ceria sama dengan beberapa waktu lalu. Tapi tidak, semuanya berbeda. Dia sudah menjadi lebih dewasa dan memperhitungkan ini dan itu.

Sekali lagi selamat menempuh hidup baru pernikahan untuk temanku yang dari dulu hingga sekarang masih konsisten kecil dan imut, Puput.


-Sementara aku sudah seperti raksasa yang tiap pekan membesar. Melebar. Dan sejenisnya.-

11/04/2016

Bunga Liar


Bahkan musim sudah berganti. Sampai bunga liar saja sudah berlarian menebar aroma kehidupan. Sementara aku masih terkurung masa lalu. Masa ketika kamu memilih untuk pergi, meninggalkan aku dan keragu-raguanku.

“Waktu akan membuatmu lupa!” Katanya.

Yang benar saja. Kalau hati masih saja bergumam macam-macam, maka selama apapun itu tidak akan bertemu keikhlasan. Waktu tidak membuat lupa, aku lah yang seharusnya berusaha seiring berjalannya waktu.

***

“Sepertinya saya harus benar-benar pergi, sekarang.”

Aku akhirnya mengangkat kepalaku yang dari dua menit lalu tertunduk tak berani memandang wajahmu.

“Kenapa?” Ingin sekali menanyakan itu padamu tapi itu hanya tertahan di batas antara alam sadar dan alam bawah sadar.

“Karena kamu masih belum bisa menjawabnya, mungkin ini waktu yang tepat untuk saya.” Kamu mengucapkan kalimat keduamu dengan hati yang teriris. Aku bisa merasakan itu.

“Untuk apa? Pergi? Apa begitu melelahkan?” Lagi, pertanyaanku untukmu tak pernah benar-benar kutanyakan padamu.

“Mungkin ini waktu yang tepat buat saya untuk pergi. Biar kamu gak terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Supaya kamu gak terbebani.” Senyumanmu diakhir kalimat semakin menegaskan kalau kamu dengan berat hati memilih untuk berhenti. Aku tahu kamu pasti sangat lelah.

“Maaf.” Justru satu kata pendek itu yang bisa keluar dari mulutku.

“Bukan itu yang ingin saya dengar.” Kamu memandangku lamat-lamat.

Dengan pandangan matamu yang sendu, kamu menggenggam tanganku. Telapak tangan yang dingin. Kuharap hatimu selalu hangat. Seperti sejak pertama kali kita berjumpa.

“Kamu harus jaga kesehatan. Sempatkanlah tidur, meski hanya 3 jam. Jangan minum soda dan makan pedas terus. Saya tidak ingin kamu sakit.” Kamu masih menggenggam tanganku dengan telapak tangan dinginmu sementara aku dari tadi tak ingin mengalihkan pandanganku selain padamu.

“Maaf.” Lagi, satu kata pedih itu yang keluar dari mulutku.

“Sungguh bukan itu yang ingin saya dengar dari kamu. Saya tahu ada banyak yang ingin kamu sampaikan, tapi kamu masih ragu.”

“Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik. Daripada seonggok keragu-raguan yang bahkan tidak bisa menjawab pertanyaanmu.”

“Meski yang saya inginkan adalah kamu?” Kamu tersenyum. “Tidak usah dipikirkan lagi pertanyaan saya. Dia tidak harus selalu dijawab.” Kamu melepas genggaman tanganmu. “Saya pergi ya?”

“Boleh saya peluk kamu?” Aku tak tahu kenapa aku melakukan itu padamu.
Kamu mengangguk.

Itu adalah pelukan pertamaku sekaligus terakhirku untukmu. Karena kamu kemudian pergi. Begitu jauh. Membawa kotak cincin yang tak pernah sampai padaku.

***

Kini aku merindukanmu. Kamu yang sejujurnya sudah tidak bisa dirindukan olehku. Maka aku akan terus diam bersama keragu-raguanku. Dan berharap bunga liar bersedia menghampiriku untuk berlarian dan menari bersamanya. Aku berharap aku akan bersemi lagi. Menepikan keraguan.

Terimakasih, untuk kamu yang tidak ingin aku sakit.

10/28/2016

10:19 PM

10/15/2016

Kesaksian Ikan Koi

Sepasang Ikan Koi

Setelah empat tahun.

Sepasang ikan koi pemberianmu sudah beranak pinak. Sudah ada beberapa yang mati. Kukuburkan di halaman belakang rumahku.

Aku hanya tahu, kamu memberi sepasang ikan itu agar aku tidak lupa padamu saat kamu pergi. Jadi aku merawatnya seperti layaknya ikan koi. Yang tak pernah lelah meski hanya berenang. Yang kutahu hanya itu.

Setelah empat tahun.

Sepasang ikan koi pemberianmu sudah beranak pinak. Saat itu aku baru tahu maksudmu. Maksud pemberian sepasang ikan koi padaku. Maksudmu yang tersimpan dalam akuarium peranakan ikan koi pemberianmu.

Baru setelah empat tahun.

Teman kerjaku yang setengah darahnya keturunan Jepang mengatakan,

“Kamu suka ikan koi?” Temanku bertanya padaku.

Aku menggeleng pelan “Sahabatku memberiku sepasang, empat tahun lalu. Sampai beranak-pinak.”

“Laki-laki?”

“Bagaimana kamu tahu? Kamu bisa baca masa lalu?”

Bukannya menjawab pertanyaanku, teman kerjaku itu justru terpingkal-pingkal.

“Kamu kuno! Bagaimana bisa aku hanya menebak sang pemberi ikan koi saja kamu bilang bisa baca masa lalu. Yang benar saja.”

“Ya kan siapa tahu.”

“Kalian hanya bersahabat?”

“Dia sudah bertunangan dengan orang lain.”

“Apakah sebelumnya dia tidak pernah mengatakan apapun padamu tentang ikan koi ini?”

“Sepenting itukah ikan koi?”

“Huh?”

“Dia juga selalu menanyakan kabar ikan koi ini, bukan kabarku? Kamu juga tanya-tanya tentang ikan koi ini.”

“Jadi dia tidak bilang apa-apa?”

“Memangnya ada yang salah dengan ikan koi di akuariumku? Apakah ada roh jahat.”

“Apaan sih, bukan itu! Kata mamaku, dia wanita jepang, mama menyatakan cintanya pada papaku pakai ikan koi. Di Jepang, ikan koi itu melambangkan cinta dan ketulusan.”

“Tapi sahabatku bukan keturunan jepang setahuku.”

“Huh? Kamu benar-benar tidak tahu maksud ikan koi ini? Ini bukan perkara keturunan jepang atau bukan. Lama-lama aku masuk akuarium juga deh ini.”

Setelah empat tahun.

Aku tidak tahu harus mempercayainya atau tidak. Karena dia sekarang sudah bertunangan dengan orang lain. Aku hanya memendam perasaan yang baru kusadari seminggu sebelum dia bertunangan masih bergemuruh setelah dua bulan berlalu. Aku hanya ingin memastikannya.

Aku akhirnya bertemu dengannya (lagi) setelah dua bulan memilih untuk menjauh. Karena aku akan pergi. Aku mengajaknya bertemu di dekat bandara. Aku tahu disana ada kafe langganannya.

“Hai bagaimana kabarmu? Kenapa gak pakai ponsel lagi?” Dia meminum kopi yang selalu dipesannya setiap bertemu denganku. Sejak tujuh tahun lalu. Kopi yang sama. Kopi kesukaannya.

“Serius aku baik-baik saja. Tapi telepon kantor sudah sangat membantuku.” Aku memandangi minumanku yang juga berwarna gelap pekat. Tanpa menyentuhnya. Tidak juga berani memandangnya yang duduk didepanku terlalu takzim.

“Iya. Tapi aku kesusahan kalau ingin mengajakmu jalan.” Dia menyilangkan kaki.

“Ini kita ketemu. Sekarang kan gak perlu sering ketemu.” Aku melihatnya sedang menatapku dengan pandangan menyidik.

“Kenapa? Karena aku sudah bertunangan? Itu klise sekali.” Dia tersenyum tipis di akhir kalimatnya.

“Aku ingin tanya tentang ikan koi empat tahun lalu.” Bibirnya yang belum usai tersenyum datar seketika.

“Hmm?” Dia menurunkan kakinya yang disilangkan dua menit lalu.

“Iya ikan koi sepasang darimu, empat tahun lalu. Apakah aku masih bisa merawatnya meski kamu sudah bertunangan?”

“Apa maksudnya? Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

“Aku diterima kerja di Farmsville.”

“Apakah akan sangat lama?”

“Mungkin ada pada titik aku akan merindukan ikan koi di rumah nanti. Apakah tidak apa aku merindukan ikan koi di rumah? Aku hanya tidak ingin mengganggu hubungan orang lain.”

“Apa maksudmu? Apakah kamu tahu makna ikan koi pemberianku?”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?” Mataku sudah mulai berkaca-kaca.

“Kenapa baru sekarang kamu tahu?”

“Kenapa kamu tidak bilang empat tahun lalu?” Aku menahan teriakanku.

“Aku takut akan terjadi hal seperti ini. Persahabatan kita.”

“Kamu tahu bagaimana aku menahan perasaanku padamu? Aku seperti orang paling bodoh.” Air mataku sudah menggantung di pelupuk.

“Apa maksudmu? Bukankah kamu dengan Billy?”

“Billy? Dia sudah menyerah setelah kuabaikan selama dua tahun.”

“Kenapa kamu tidak bilang tentang itu padaku?” Dia tidak kalah terkejutnya denganku.

“Kamu tidak pernah bertanya.”

Kita berdua terdiam. Entah berapa lama.

Aku mengusap pipi yang sudah basah.

“Kita tidak salah. Ini jalan terbaik buat kita. Sekarang aku harus ke Bandara.”

“Kamu ke Farmsville sekarang?”

Aku mengangguk.

“Aku akan mengantarmu.”

“Taksiku masih menunggu di depan kafe.”

“Kamu gila? Persetan dengan taksi. Aku yang akan mengantarmu.”

Aku tersenyum melihatnya seperti itu. Dia masih sahabatku. Sahabat baikku.

Dia mengambil koperku dari bagasi taksi dan memindahkannya ke mobil navy miliknya. Dia juga membayar argo taksi. Aku berterimakasih atas itu.

“Naiklah. Aku akan mengantarmu ke bandara.”

Tanpa menjawab aku masuk dan duduk disamping kemudi.

Kita kembali diam sampai tiba di bandara. Dia memarkir mobilnya. Menurunkan bagasi. Dan membukakan pintu untukku. Aku terharu masih memiliki sahabat sepertinya.

Dia mengantarku check-in. Dengan sukarela dia menjadi kuli koperku.
Tepat setelah check-in aku langsung ke tembat boarding penumpang.

“Aku minta maaf.” Dia mengatakan kalimat itu dengan nada yang menyakitkan sebelum aku naik ke eskalator.

Aku menggeleng “Tidak ada yang salah. Kamu jangan merasa bersalah.”

“Kamu boleh merindukan ikan koi itu. Kamu boleh merindukanku.”

“Terimakasih. Sekarang aku pergi. Kamu harus selalu bahagia.”

Dia mengangguk “Bolehkah aku memelukmu sekali sebelum pergi jauh?”

Aku mengangguk.

Kita berpelukan cukup lama.

“Apakah seperti ini caramu membuang sahabat sepertiku?”

“Hmm.” Ucapku di tengah pelukannya.

“Aku juga akan merindukanmu.”

Kemudian kita saling bertatapan. Dia mendekatkan bibirnya pada bibirku. Aku menunduk. Aku tidak bisa melakukannya sekarang.

Aku melepas pelukannya.

“Aku pergi.” Aku menaiki eskalator. Tidak berani menoleh (lagi) ke belakang.


Pertanyaanku pada ikan koi sudah terjawab. Sekarang aku hanya bisa merindukannya. Tanpa mencintainya.

Oktober, 15-2016

Sebenarnya Tidak Ingin.

Sebenarnya Tidak Ingin.

Aku bukan tipe-tipe manusia yang berhati lembut dan penuh kasih sayang. Bukan pula pemaaf hanya dengan kata maaf. Bukan pula bahagia hanya dengan kata terimakasih. Aku hanya tidak begitu naïf.

Bahkan seringkali tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki. Sering melupakan nikmat-nikmat kecil yang mungkin saja berarti besar buat orang lain. Sering pula menertawai kesedihan yang mungkin saja sangat menyakitkan buat orang lain.

Aku merasa sekarang sedang diganjar atas perilakuku yang demikian itu. Sekarang semuanya berbeda. Aku amat sangat mensyukuri setiap hari yang kumiliki jauh lebih banyak dari sebelumnya. Aku juga berusaha bahagia dengan hal-hal kecil yang kudapati. Tidak lagi menertawai kesedihan orang lain, hal itu kurasa sangat jahat. Aku merasa sangat bersalah.

Semuanya berubah ketika waktu berjalan, dan aku, terbawa begitu saja. Badanku tidak seperti dulu lagi. Ada yang salah dengan organ dalamku. Ada yang harus diobati. Hatiku.

Aku patah hati? Penyakit apa itu patah hati? Penyakit dibuat-buat. Hatiku bukan hati yang itu. Ini liver. L i v e r. Sedihnya gak bisa dijelaskan dengan kata-kata pertama mendengar diagnosa itu. Rasanya tidak ingin bicara pada siapapun. Rasanya tidak ingin mengatakannya pada siapapun. Rasanya ingin kusimpan semuanya sendiri. Rasanya tidak perlu orang lain susah-susah mengkhawatirkanku.

Sebenarnya tidak ingin.

Aku tidak ingin orang tuaku, merasa bersalah jika memintaku ini dan itu karena liverku. Mereka tidak ingin membuatku lelah. Aku tidak ingin itu. Aku ingin mereka bersikap biasa saja, tidak perlu mengistimewakan aku.

Aku tidak ingin sahabat dan teman-temanku, merubah perilaku mereka jadi klan yang mengasihaniku. Seolah-olah mereka akan berteman dan baik padaku karena liverku, bukan karena aku. Aku tidak ingin itu.

Sebenarnya tidak ingin.

Sebenarnya tidak ingin menceritakan ini pada siapapun. Tapi aku hanya ingin berbagi cerita biar tidak dibilang sok misterius. Hanya ingin berbagi pengalaman dan pelajaran. Bukan untuk diistimewakan. Bukan untuk dikasihani. Aku hanyalah aku, hiduplah denganku, bertemanlah denganku, bermainlah denganku, layaknya bermain dengan aku yang sebelumny. Aku hanya tidak ingin dicap sebagai anak manja. Aku tidak ingin pertemanannya didasarkan pada rasa kasihan.

Sebenarnya tidak ingin.


-F-