9/02/2014

Masa Lalu (belum tentu) Tegak Lurus dengan Masa Depan

Dini hari, tepat pukul 3 pagi aku terbangun. Kemudian mulai melakukan ini dan itu. Entah mengapa aku menyempatkan untuk menulis ini setelah melakukan ini dan itu tadi. Dan ternyata aku punya janji untuk bercerita tentang sosok-sosok hebat yang kutemui sekitar dua minggu yang lalu di Nganget.

Berlanjut pada cerita kedua. Tentang seorang pria yang berusia lebih dari setengah abad yaitu, Mbah Mu’in. Mbah Mu’in berusia 67 tahun. Hanya karena jari tangan dan kakinya sudah tak lengkap maka selesai berkarya, JANGAN. Mbah Mu’in memiliki usaha sendiri yang begitu mengesankan. Usaha kecil-kecilan katanya, mebel. Tinggal dirumah sederhana dan bahagia. Beliau bertemu dengan istrinya di rumah sakit tempatnya dirawat—sama-sama dirawat di rumah sakit yang sama.

Ada nilai kehidupan yang bisa diambil dari cerita yang disampaikan beliau. Yaitu tidak ada batas kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Begitu juga pada beliau, dulunya merupakan peminum kelas berat, penjudi kelas atas. Mbah Mu’in bercerita bahkan kerap keluar-masuk penjara. Masa mudanya sungguh kelam, dan jika mengingatnya, bergunung-gunung rasa sesal tak akan mengembalikan masa lalu. Semua itu hanya kenangan dan tinggal cerita. Tidak harus tenggelam dalam kubangan kelam. Agar tidak terus merasa bersalah dan menyesal pada masa lalu diri sendiri. Masih ada dan akan tetap ada kesempatan untuk berubah. Karena masa lalu belum tentu tegak lurus dengan masa depan. Begitu pula dengan mbah Mu’in, beliau sekarang berubah, karena Tuhan dengan bahagianya memberikan kesempatan kepada hamba yang meminta. Hamba meminta, Tuhan memberi. Mbah Mu’in sekarang adalah ahli shalat, rajin ibadah, semata-mata bukan karena pujian sesama hamba, melainkan beriman kepada sang pemilik kehidupan.


Tapi alangkah indahnya jika berjalan lurus, dengan tauhid, dengan kepercayaan pada Tuhan. Dengan senyum merekah di masa lalu dan bahagia selalu di masa depan. Selalu. Dan tidak perlu Tuhan mengingatkan dengan ujian, dengan cobaan, dan rintangan besar yang memberatkan. Karena dari awal sudah tertulis dalam kitab suci bagaimana balasan yang akan dinobatkan.

9/01/2014

Kesempatan Itu (selalu) Ada


Aku ingin berterima kasih kepada Komunitas Peduli Kusta Universitas Indonesia (Leprosy Care Community). Bingung harus berterimakasih dengan cara apa? Akhirnya aku memutuskan untuk menuliskannya. Semoga dapat menyampaikan rasa terimakasihku. Thanks for this precious opportunity 5th International Work Camp.

 Aku ingin bercerita satu per satu sosok hebat yang mengajarkanku nilai-nilai kecil kehidupan. Sosok-sosok hebat yang kutemui di perjalanan singkatku bersama beberapa campers Indonesia dan campers Jepang. Yang pertama adalah mbah Usrek, beliau berusia 60 something. Yah sebuah prediksi yang beliau sendiri tidak mengetahui berapa usianya sebenarnya. Jaman dulu kan nggak penting gitu ya nyatet tanggal beserta tahun lahir. Sebenarnya siapa sih mbah Usrek? Namanya beneran mbah Usrek? Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan nama itu? Nggak juga sih, hanya saja ‘Usrek’ dalam bahasa jawa artinya banyak tingkah. Sedangkan aku belum sempat menanyakan arti nama beliau sebenarnya, belum sempat. Bisa saja arti namanya adalah kejayaan kota tunggal di jaman Romawi dulu. Who knows? But her name just too unique so my heart caught by her.

Mbah Usrek adalah sosok ceria pertama yang aku jumpai di Nganget (5th IWC). Meskipun usianya sudah segitu, namun kondisi beliau masuk dalam kategori sehat. Dengan masih bisa berjalan mengambil makan ke panti untuk sarapan dan makan siang. Walaupun terkadang beliau dibantu dengan sebilah kayu sederhana untuk berjalan—menguatkan sendi kaki yang sering linu-linu. Yah kata beliau itu penyakit orang tua. Bisa saja bercandanya. Memang tidak dapat dipungkiri sendi-sendi tua disertai dengan penyakit seperti asam urat, pegal linu, dan lainnya.

“Mbah….dari mana?” Panggilan mbah adalah panggilan sayang kepada setiap warga yang usianya more than fifty. Sore itu aku dan salah seorang temanku bertemu beliau di dekat panti.

“Nyari kayu, nduk.” Kemudian kami bersalaman.

“Coba tebak aku ini siapa mbah?”

“Yo nggak inget. Sudah tua, susah ingat-ingat.” Dengan nada ceria jawaban beliau membuatku tertawa kecil.

“Kopi mbah. Inget ya, Pait. Jadi mbahe biar gampang ingetin nama saya.”

“Oh iya pait.”

Yah percakapan-percakapan enteng seperti itu yang justru terus teringat. Lawakan garingku justru yang paling nempel di hati. Lagi-lagi mendapat kesempatan berharga, dengan berbagi kebahagiaan. Kata beberapa warga sih, kedatangan kita menjadi obat rindu mereka kepada keluarga jauh yang jarang menjenguk atau bahkan nggak pernah (lagi) menjenguk. Kesempatan itu selalu ada, apalagi kesempatan untuk berbuat kebaikan, tidak akan pernah ada batasnya. Juga mbah Usrek yang tak bosan-bosannya memberikan wejangan-nasihat kepada kami untuk tidak semena-mena dengan hidup. Untuk selalu menghargai hidup sebagaimana hidup yang tidak pernah menyia-nyiakan sang pemilik kehidupan. Selagi muda, selagi masih hidup, maka itulah kesempatanmu untuk memperbaiki yang salah, memperbaiki yang tidak benar. Kesempatan itu selalu ada.

8/25/2014

5th International Workcamp, Nganget-Tuban-Indonesia

My name is Fa’id. Indonesian campers who really like trite or do some bullshit. I’m just an ordinary girl that join an extraordinary community with the greatest people inside—Leprosy Care Community, LCC UI. Yes for about 12 days, I’ve spent my gorgeous days there. Nge-camp. But it isn’t like usual camp, we called it International Workcamp! We were gathering not only with Indonesian campers, but also Japanese campers, all was gather in the same place, Nganget, Tuban, East Java. I’m so grateful can join this beautiful kind of social activity. As a volunteer, I’m just really really enjoy the taste, enjoy the scenery, enjoy the joy and happiness, sadness, everything in Nganget.

First day, I felt jet-lag! No no, motor-lag…caused my energy drained on the way to Nganget. Only an hour from my home, Bojonegoro. But I treated well with all campers there. They are just so cool! Acually my group four members, they are Kak Dian, Yuli, Masa, Charisma, Moe, Kak Ari, and Me. Second day, started the schedule, work-day. Group four really enjoyed to rebuild three toilets. After that, our group took a rest in camp for several hours. And the other actually KP (Kitchen Police) just cooked and cooked. Never ending jobs! Erghhh, this place just made me bored to the max because I still didn’t find the THING that I should find. But, the next day, everything had changed. Our group home visited the villagers! We were going to LIPOSOS. And done chit chat with villagers. I felt that day has became drugs which is gain feeling of togetherness there (Nganget). So I just wanna hold this feeling tight after that.

For everyone over there, I have one thing that you guys must know! Don’t ever judge people just by his-her cover. But the real is, everything looked just by his-her cover. See flower! What for the flower always grow just with its leaf if everyone waited for the flower. 

Leprosy isn’t that mystery that you guys have to discriminate them! Leprosy, is a symptom which can clear with the drugs that will be consumption everyday for about 3-9 months. Then everything is oke. Stigma isn’t that good for their life of live. I learned from it, the way they accept of everyone habit outside their community. They are so kind! They are good person. They are an angel that can’t forget easily. Ough well, I already miss them!. Oh yeah, I’ll tell you about mr and mrs Amir, mrs.Sumining! They are a family without children. You can imagine how loneliness their whole day? I think so. When I first saw them, their eyes looked me like want to cry! So I hug them and took a picture together.



For God sake, I can’t leave easily from this place. When farewell party was coming, me, myself, I cry over the night! Yes the camp is finished! The next morning, I was going home with tons of tears. Oke, that’s what I can write, thanks International workcamp! See You next year yah~ I miss you guys! 

8/11/2014

My Bratha

Ma Bratha

Uuyeeaahh, jika berbicara mengenai keluarga atau saudara, apalagi adik laki-laki yang bawelnya setengah hati terus nyebelinnya tingkat akut, yang kudu pergi nyari ilmu dan bakalan lama gak ketemu, ah itu bikin hati nyess sakitnya. Yah meskipun saat bertemu beradu mulut dan tengkar bawaannya, tapi tiap pamit pergi kemana, terus perginya lama, nah, saat itulah kerasa sedihnya dan gak bakal berani tatap muka! Kalau sampe tatap muka, nggak ada semenit udah jatuh air mata. Itulah cinta! Nggak harus diumbar dan dipamerin! Tapi bukan berarti disembunyiin! Tapi dirasakan, dijalani. Kata salah seorang pujangga, dimana saat hati mulai kerap merindu dan memimpikan, maka benih cinta sudah merasuk hadir. Meski kalimat itu agak klise. Ini kenapa jadi ngomongin cinta?

My bratha, dia adikku yang pertama. Dengan banget sama aku, dalam arti yang tidak sesungguhnya. Dekat dalam arti batiniah-nya. Meski dia seorang adik, bukan berarti tingkahnya kekanakan. Justru aku (selaku kakak) lah yang lebih kekanakan. Dia sering menasehatiku, meskipun dengan kalimat ala anak kecil. Misal nih…

Me: Beli burger yah. Laper.

My Bratha: Nggak usah mbak. Pulang aja, ibuk udah nunggu.

Well, why I can’t refuse it? Of course I can’t!

My bratha, dia berusia 15 tahun, this year. Dia punya niat tulus loh pas ditanya ibuk buat lanjutin SMA.

Mom: Beneran mau di pesantren? Nggak mau di SMA A, SMA B?

My Bratha: Aku pengen hafalan Al-qur’anul karim, buk. Pengen sekolah sambil ngaji. Minta do’anya.

Mom: Jangan minta do’a ke ibuk. Nggak pernah kamu minta juga selalu ibu do’ain. Kamu belajarlah yang bener, ngajinya yang bener. Niat hafalan al-qur’annya semoga diberkahi dan dirahmati sama Allah.

My Bratha: Amin (no sounds came out)

Aku malu disini, bagaimana dia bisa sebijak itu. Bukan iri atau apa, dia sudah jauh melihat kedepan. Tidak, kita tidak berbeda. Hanya lewat jalan yang tidak sama. Namun, jangan menyalahartikan pemahaman keluarga yang sudah mendasari kami (anak-anaknya) dengan dasar agama yang turun-temurun dan insyaallah that’s the way we live gitu!


Setelah liburan panjang dirumah bersama My Bratha, akhirnya mala mini, hari minggu malam, tepat selepas shalat Isya’ adek berangkat. Bismillahirrahmanirrahim, dia melangkah keluar pintu. Mungkin tiga bulan atau empa bulan, atau bahkan lebih. Memang ini terlalu berlebihan, berasa ditinggal mati. Bukan! Hanya saja rumah bakalan sepi. Aku juga besok berangkat ke suatu tempat dua minggu lamanya. Kemudian ke Bandung 2-3 hari, terus berangkat rantau cari ilmu ke Surabaya. Bismillahirrahmanirrahim juga, semoga setiap langkah selalu berada dalam lindungan Allah. Amin ya rabbal alamin. 
I love you, brother. 

8/05/2014

This Disease


What “This Disease” that I mean here? Nothing, just something I want to share (not much) with you, although I’m not sure people will read it, ha ha ha.

This morning, my lovable friend, I called her, mama, sent message to me. She was my classmate at senior hi-school. Lu’luil Maknun (The hidden Pearls). What a beautiful name ever. That sentence wrote inside the Al-quran. Mama tidak main-main dengan nama yang dianugerahkan padanya. Dia gadis yang manut pada orang tua dan begitu hormat. Gadis sholeha yang relijius—not in fanatic area.

Pribadinya menyenangkan. Dan menyebalkan—kalau denganku. Suka membuliku. Apa karena mukaku bully-able? ._.

“Paid, gak kontrol hah?” Kalau kalian yang bukan diriku baca sms ini pasti mikir macam-macam. Kontrol? Kontrol apa? Aku gila? Sehingga harus rutin kontrol? Sampai teman dekatku menanyakannya? Enggak. Aku sekarat? Sehingga butuh rekap dari dokter? Aku komplikasi sehingga butuh internis yang memastikan? Entahlah. Itu obrolah yang susah dipahami antara aku dan mama. ._. Yah, pertanyaan itu disampaikan beliau karena memang ada kesamaan disease antara aku dan mama. But, this disease has too many types. Salah satu ada di mama, salah dua ada di aku. Berbeda. Dengan symptoms yang berbeda pula.

“Gak ma, aku males, lelah. Ha ha ha” ß ya begitulah balasan yang kukirim. Aku benci kalimat itu. Kalian tahu kenapa? Jawaban seperti itu bukanlah yang diajarkan agama dan kitab suci. Saat berbicara atau menulis pesan kepada sesama, maka biasakanlah dengan mengucapkan salam dan saling menanyakan kabar. Kalimat tersebut juga menyebutkan malas dan lelah, dua kata yang bermakna negatif dan penuh pesimistis. Bukankah manusia setidaknya selalu berusaha dan memperbaiki kesalahan dan berharap tidak mengulanginya. Dalam kata lelah, secara jelas bermakna keluhan. Allah, Tuhanku, tidak menyukai keluhan hambanya. Kurang apalagi coba yang dikasih Tuhan pada kita jika kita hanya bisa mengeluh, dan selalu merasa kurang dengan apa yang dimiliki. Dengan makin banyaknya keluhan di dalam diri individu, maka semakin jauh pula dirinya dari Tuhan. Jika dia merasa dekat dengan Tuhan, maka individu akan rajin dan pandai bersyukur. Bersyukur dengan senantiasa belajar mencintai ciptaan Tuhan. Apapun. Mulai mencintai Tuhan berarti mulai mencintai ciptaanNya. Mencintai diri sendiri. Bagaimana mungkin individu bisa mengatakan cinta kepada orang lain—memberikan cinta kepada orang lain—apabila tidak bisa mencintai diri sendiri, maka akan tercipta kesalahan dalam penerjemahan mencintai itu sendiri. Mencintai alam. Alam adalah ciptaan Tuhan yang paling luar biasa, sekaligus ciptaan tuhan yang dijelaskan panjang lebar beserta dengan asbabun nuzul di dalam kitab suci. Alam memberikan kemudahan bagi manusia untuk berulah, baik mereka mau menyakiti atau berbaik hati kepada alam, hanya saja manusia yang menyakiti alam akan mendapatkan kejahatan dari alam—bukan dalam waktu yang singkat.

Mencintai apa lagi? Mencintai this disease! This disease adalah pemberian Tuhan bukan? That's why I try to be grateful with this disease. Iri dengan mereka yang tidak bersama this disease? Jangan munafik! Tentu saja, tapi diri ini selalu berusaha untuk menghindarkan perasaan itu. Buktinya seorang alim dari negeri seberang ketakutan saat dalam satu tahun tidak mendapatkan sakit. Beliau takut jika tidak mendapatkan pengampunan. Sakit mengampuni dosa. Tapi bukan berarti saat sakit bebas melakukan dosa. Omong kosong apa lagi itu? Tuhan tidak pernah pilih-pilih mana hamba yang diberi sakit mana hamba yang diberi sehat. Mana tanah yang dilanda hujan dan mana tanah yang dilanda kekeringan. Tuhan itu Sang Maha Adil.


Dengan adanya this disease aku belajar banyak dari nasihat kanan-kiri. Dari mereka yang lebih mengerti tentang ini-itu. Sejak SMA dulu, pas tahu kalau tablet obat temenku (mama) sama denganku, mulai ngerasa, well, this wild world not as cruel as I thought. Temanku (mama) adalah gadis penyemangat yang selalu ceria, lincah, nobody knows that she has been with this disease for several years ago. Let’s keep in touch yah~ _ ~

7/27/2014

Yes, What for? Fashion?

-Pertanyaan membutuhkan jawaban. Jawaban membutuhkan kritikan. Kritikan membutuhkan subjek. Subjek membutuhkan objek. Pertanyaan muncul karena keberadaan sebuah objek-



Jawaban Yes, I am tidak berlaku untuk No, I am not. Begitu pula sebaliknya. Dapat kita lihat pada pertanyaan berikut;

Q: Apakah anda seorang laki-laki?
A: Ya. Saya seorang laki-laki.

Maka tidak berlaku untuk para lelaki mengatakan bukan, aku bukan laki-laki. Lalu mereka apa? Pria? Cowok? Puhlis itu satu jenis! Sama-sama bukan perempuan. Begitupun pertanyaan untuk Apakah anda perempuan?. Namun, akan ada saat dimana jawaban Yes, I am bermakna tidak No, I am not. Misalnya sebagai berikut;

Q: Apakah anda seorang wanita karir?
A: Ya. Saya seorang wanita karir.

Maka belum berarti wanita tersebut bukan seorang ibu rumah tangga. Contohnya juga diri saya sendiri, dimana saya sangat menyukai makanan, tapi saya bukan chef, bukan mereka yang dapat memasak apa yang saya sukai—makanan. Saya menyukai fashion, selalu asyik mengusik Paris Houte Couture, bahkan ribut kalau ada fashion week, tapi saya bukan fashionista. And I am not a fashionable. Let’s say that I am an odd for fashion. But for real I know what fashion du jure, I know. You guys will think more if want to buy this or that caused by price. Yah meskipun tidak semua kalangan mempermasalahkan harga. Namun survey mengatakan bahwa harga menghambat seseorang untuk membeli barang.

Fashion Design? Siapa yang tidak terpesona dengan fashion—tentunya yang masuk akal—baru? Fashion adalah hasil cipta seni seorang desainer yang berasal dari muse nya. Muse adalah mereka yang memberi inspirasi kepada seorang desainer dalam sebuah karyanya—dapat berupa benda hidup (manusia), tempat, atau makanan. Namun terkadang fashion menghambat seseorang untuk bergerak. Dalam segala sesuatu memang dibutuhkan adanya opportunity cost (di salah satu mata kuliah yang aku ambil menyebutkan demikian) dimana jika ingin mendapatkan sesuatu maka harus ada yang dikorbankan. Mencintai fashion bukan berarti mereka semua fashionable. Bisa saja mereka hanya menyukai-mengagumi-memuja sang-mode-baru yang memang selalu memikat. Style itu punya harga. Dig the point on them. But wait guys, ada sebuah quote yang akan membuat kalian tercekik,

“Fashion is not something that exists in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.” (Coco Chanel)

Aku bukan seorang yang fashionable. Hellowww siapa yang tidak tahu Alexander McQueen?. Aku selalu sayang dengan karya-karya Dior, Roberto Cavalli, Alice dan Olivia, Charlotte Licha dengan karya mereka yang segar dan menyenangkan serta sangat berani berekspresi—itu keharusan. Ah pasti kalian tahu Stella Jean yang memiliki karya unik dengan kain-kain warna cerah berbahan silk yang berkilau. Calvin Klein, Valentino, Yves Saint Laurent, Nicole Miller. Ah! Terlalu banyak orang-orang hebat yang harus disebutkan satu per satu. Bahkan semua model yang berlenggak-lenggok di catwalk dengan karya beliau-beliau hebat tersebut merasa sangat bahagia. Salah seorang Pembuat Karya terkenal Coco Chanel mengatakan;

“Fashion changes, but style endures.”

Artinya setiap orang memiliki their own style and it is always different each other, actually. Imitasi pun punya perbedaan. Indeed. Meskipun tidak bisa dibantah fashion mengalami perubahan (selalu) atau sirkulasi perubahan yang berulang, tapi gaya itu tetap. Tidak bisa dipaksakan.

Ada juga sebuah quote dari model Polandia, Monika Jagaciak yang  mengatakan bahwa:

“Models are canvas! Designer is Painter! They will be an angel when doing paint in me. I love it.”

Seorang model tidak akan protes dengan apapun yang akan ia kenakan di panggung, karena itu merupakan tanggung jawab dan kebanggaan menjadi seorang model yang akan dipoles dengan cat minyak—yang berupa karya yang akan dikenakan—dengan kuas ajaib para desainer.

Di Indonesia, sekolah fashion design sudah tak asing lagi. Salah satu yang terkenal dengan best quality of INTI College Indonesia Laureate International University yang menawarkan program diploma. Bagi yang tertarik, yah meskipun tidak bisa disamakan dengan Central Saint Martins di London, England, yang well masuknya lewat seleksi ketat, tes ini dan itu, juga biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit. Juga Instituto Marangoni di Italy yang membuktikan dengan dua orang famous grads, yakni Domenico Dolce dan Franco Moschino.

Baiklah akhiri saja pembicaraan yang semakin meleber kemana-mana. Nikmatilah duniamu wahai para wanita. Beranilah meskipun dalam dunia pria. Pffft <__<

7/24/2014

Jim #

Hai, masih ingat temanku yang bernama Jim? Kuharap. Malam ini aku ingin bercerita (lagi) tentangnya. Terkadang agak jahat bercerita tentang kehidupan orang lain, tapi Jim tidak keberatan jika ceritanya diceritakan kembali pada orang lain. Toh dia merasa tidak ada yang istimewa atas dirinya. Setidaknya itulah yang dirasakannya selama ini, meskipun itu membuatnya tetap bertahan.

Mamanya memberi Jim teman baru, anak anjing poodle warna putih yang menggemaskan. Sayangnya dia tidak mau berbagi gambar anjingnya—Maxkew. Hanya menyebutkan harga dalam satuan dollar yang menggemparkan jika di rupiahkan untuk seekor anak anjing, yakni $ 800 atau senilai Rp. 10.000.000; Ya itu memang mengerikan untuk harga satu ekor anak anjing, bisa digunakan untuk menyewa kontrakan 3 kamar setahun lengkap dengan kamar mandinya. Jim hanya mengirimkan emot tertawa saat aku mengatakan itu. Aku juga bertanya mengapa mamanya tiba-tiba membelikanmu Maxkew?

“…aku juga tak begitu mengerti maksud mama. Mungkin saat aku mati nanti, mama akan melihatku lewat Maxkew atau kebiasaan-kebiasaannya yang akan diingat saat bersamaku? Bukankah itu akan lebih menyakitkan. Lalu mengapa anjing? Mengapa tak memberiku saja adik perempuan? Ha ha ha tidak mereka sudah cukup tua untuk merawat bayi. Bisa-bisa mama harus berhenti kerja untuk mengurusi dua bayi.” Aku mengeryitkan alis saat dia menuliskan dua bayi di kalimatnya.

“Dua bayi?” Aku mengetik dua kata itu saat membalas chat dengannya pagi itu dua bulan yang lalu.

“Iya. Kalau memang benar mama punya bayi lagi maka secara otomatis akan ada dua bayi. Aku dan adik bayiku. Mama akan merawat anak gadisnya yang sakit dan merawat bayi yang belum bisa apa-apa. Aku tak akan mengijinkan mama untuk melakukan hal bodoh itu. Mungkin karena itu juga mama membelikanku Maxkew. Biar aku ada teman saat mama dan papa sedang berada di kantor dan harus lari-lari pulang saat mendapat telepon dariku bahwa aku sekarat, ha ha ha. Sepertinya kata yang kugunakan kedengaran mengerikan?,” aku mengiakan hal tersebut. Orangtua mana yang akan diam saja mendengar telepon dari anaknya bahwa anaknya—anak semata wayangnya—sekarat.

Cara berceritanya yang jenaka terkadang membuat aku yang sehat jasmani merasa malu dengan semangatnya yang tak pernah padam. Pernah sekali Jim bercerita padaku tentang pengobatan alternatif yang disarankan saudara jauhnya yang ada di Amerika sana, dan Jim menjalaninya. Salah satu pagi di musim semi, Jim dan mamanya pergi ke salah seorang dukun kalau orang sini bilang mah. Dukun itu keturunan suku maya yang pandai meramal. Meskipun Jim dan mamanya sudah merasa pesimis sebelum sampai di tempat tujuan, namun mereka tetap saja pergi untuk coba-coba. Padahal akibatnya bisa saja fatal mempermainkan hasil laboratotium dan hasil nalar seorang peramal. Dan lagi jika di logika, apa hubungan peramal dengan penyakit yang diderita Jim? Itu sungguh tidak masuk akal. Setelah tiba di tempat dukun tersebut. Jim disuruh duduk, mulai dibacakan mantra-mantra kemudian disuruh meminum ramuan herbal kering dalam kantung berwarna coklat tua dan dituangkan ke dalam secangkir air putih hangat. Jim berteriak saat meminumnya. Jim berkata rasa ramuan itu mirip rumput kering dicampur dengan kecap asin dan bekicot busuk. Ah aku tidak bisa membayangkannya. Aku tidak pernah memakan rumput dan bekicot, apalagi yang busuk. Lidahku menjadi kusut seketika saat membayangkan ada bekicot dan rumput yang masuk kedalam mulutku. Tidak lain Jim melakukan itu adalah untuk kesembuhan. Aku pernah membaca dalam kitab yang menyebutkan bahwa tidak ada satu umat pun di dunia ini yang mengetahui kapan ajalnya tiba dan tidak pula mampu mencari cara penundaannya. Namun, bukan berarti hanya pasrah dan berdiam diri menunggu maut. Tapi berusaha untuk menjaga kesehata agar tubuh ini atau tubuh kita tidak merasa marah saat meminta pertanggungjawaban kelak saat masa pertarungan di dunia sudah habis.

Jim kuakui ahli dalam bercerita. Bahkan aku tidak bisa bercerita seruntut apa yang telah dia ceritakan padaku. Jim mengatakan pernah secara runtut menyebutkan kebohongan teman sekelasnya. Pertama, saat liburan musim panas. Saat itu teman-temannya menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas akhir bersama, Jim ikut serta. Demi apapun Jim lupa membawa obatnya, dadanya merasa nyeri saat itu juga—kekurangan oksigen yang masuk ke dalam jantungnya. Sehingga Jim jatuh pingsan. Namun masih terdengar sayup-sayup suara teman-teman di sekelilingnya. Nah pada saat itulah dia mendengar temannya tersebut mengucapkan kalimat

“Sudah kubilang jangan mengajak Jim. Dia sudah sekarat dan akan merepotkan siapa saja.” Dan sungguh demi apapun Jim saat itu menangis dalam pingsannya namun dia tidak bisa membuka mata bahkan bernapas dengan benar. Setelah sadar dia berada di rumah sakit, teman yang berkata demikian tadi dengan wajah sendu menungguinya di rumah sakit dan berpura-pura berempati dan matanya mulai berkaca-kaca. Pada saat itulah Jim yang sedang berbaring di ranjang kaku yang menjemukan lengkap dengan aroma rumah sakit serta dengan selang kanula yang menempel di hidungnya atau apalah aku lupa terhubung dengan tangki oksigen besar (jujur saat itu aku membayangkan tangki Liquid Portable Gas) mengatakan bahwa akting temannya—yang aku sedikit lupa antara Tilde atau Tilda aku lupa—sangat mengesankan. Jim menyebutkan segala kebohongan yang diketahuinya dan Tilde/Tilda itu merasa dipermalukan di depan orangtua Jim, dan memutuskan untuk pergi meninggalkan Jim.

Bukankah Jim pengungkap kebohongan yang hebat? Ya, tentunya pengungkap kebohongan yang berani. Meskipun seorang dalam kondisi sekarat atau apapun yang patut dikasihani, mereka tidak akan memilih untuk dikasihani jika mereka memiliki sesuatu yang berharga misalnya ilmu atau nilai atas kehidupan maka hal tersebut tidak akan dipilihnya. Hidup dengan rasa dikasihani lebih menyakitkan daripada dicaci di depan muka sendiri. Hidup dikasihani seolah kita hidup dibawah kendali orang lain, bergantung pada orang lain. Dalam hal ini bukan berarti manusia bukan makhluk sosial, bodoh, tentu saja manusia membutuhkan manusia lain untuk hidup dan tinggal sehari-hari, kumohon jangan naïf. Dia adalah pembela mereka yang direndahkan, dibohongi, dan dibodohi atas nama kasihan.


Sekian ceritaku kali ini mengenai Jim. Aku tidak bercerita dengannya seintens tahun lalu atau empat bulan yang lalu. Hanya saja dia mengatakan akan lebih sering melakukan bypass sebelum akhirnya beralih pada prosedur dokter mengenai kelanjutan koronernya dengan menggunakan angioplasti yang tidak kutahu apa maksudnya. Yang jelas itu mengenai pemasukan jarum ke arteri melalui kateter yang sebelumnya telah dimasukkan dengan petunjuk sinar X. Kudengar dari perbincangan teman-temannya di dinding media sosialnya, Jim sudah tidak masuk kuliah selama satu bulan. Kuharap dia baik-baik saja dan selalu dalam rengkuhan Tuhan. Jim, aku merindukanmu—cerita jenakamu.