10/25/2014

Sajak Dini Hari


Hei, aku bangun…dengan suka cita
Menatap langit setengah gelap di ujung pelipis
Tersenyum pada sang empunya, dzat yang maha agung
Hei, aku bangun…dengan semangat baru

Oi, aku temanmu…tanpa dikatakan
Tertawa, bahagia, menangis bersama di relung biung bumi ini
Berkah dari sang empunya, dzat yang maha dasyat
Oi, aku temanmu…tanpa mahkota penyematan

Amboi, pagi yang hambar…di kota seribu matahari
Aku tertawa menyebutnya berlebihan
Aku lelah dengan hari yang bising
Amboi, pagi yang hambar…di bumi adakah kedamaian?

Hush, sajak ini menyakiti…jangan mencobanya
Hati yang tersakiti tak mudah diobati
Maksud menghindari berakhir menguliti
Ah, siapa yang mampu memahami hati…malas mencobanya

Manusia penggemar sajak, kau yang disana
Yang mengemban pujian sejati
Sadarlah, bumi ini milik siapa?

Milik sang empunya, dzat yang maha segalanya

10/23/2014

Ilusi

Wahai anak manusia yang tengah dibutakan oleh gemerlap dunia, oleh kebahagiaan semu, oleh kesenangan sesaat, oleh kecurangan yang tersembunyi, oleh begitu banyak oleh yang lain. Sungguh bukan kesalahan memuja semua itu, bukankah manusia suka dipuja? Bukankah manusia memilih bahagia dengan terluka daripada bahagia bersama luka? Bukankah manusia memilih tersenyum menahan sedih daripada menanggapi anggapan angin?

"Ah akhiri saja omong kosongmu! Tulisanmu hanya omong kosong! Aku muak!" Angin di seberang menyentak pongah dengan suara-suara menggelegar ke dalam gendang telinga. Mengusik, meninggalkan luka. Tapi berusaha disembuhkan.

'Maafkan sosok disini yang menoreh benci. Maafkan sosok disini yang hanya menyebarkan omong kosong.' Anak manusia yang hanya menjawab dalam hatinya, mencoba memeluk angin yang akan pergi mengikuti arus daripada harus bertahan dan menanggapi omong kosong.

'Terimakasih wahai pemilik ketidak-omong kosong-an yang mengingatkan anak manusia yang suka menulis omong kosong ini.'

Hidup memang harus saling mengingatkan. Sayang terlalu takut untuk mengingatkan mereka yang hidup dengan ilusi kebesaran mereka. Rasanya lelah untuk mengingatkan mereka yang hidup dengan ilusi kesombongan. Tampak angkuh jika harus mengingatkan para pemilik ilusi kecintaan.

Mengaku memiliki kuasa karena kepemilikan kepintaran. Meskipun tidak mengatakannya dengan tegas, tapi terlihat pada mimik dan tingkah polah. Padahal jauh di Timur sana, jauh di Barat sana, jauh di Atas sana yang memiliki kepintaran yang lebih tinggi. Bahkan rela menghadapkan dirinya pada perasaan risih harus menjalani hari-hari dengan penganut nilai-nilai omong kosong yang boleh lah dibilang annoying gak penting. Dengan berat hati bertahan dengan dengusan sebal, lelah, tak tertarik, dan terpaksa. Ingatlah semua itu hanya ilusi. Seperti petuah seorang yang ada disana bahwa 'Masih ada langit diatas langit'. 

Mengaku memiliki apapun yang diinginkan. Tidak ingatkah yang dimiliki itu sebenarnya milik siapa? Bukan untuk dipamerkan, tapi untuk dijaga dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Wahai penganut kesombongan, semuanya hanya ilusi, yang kau miliki ternyata milik dzat lain. Milik pemilik sebenar-benarnya. Sang pemilik segala.

Wahai sang penganut nilai-nilai omong kosong, mengapa kamu mulai membicarakan kemaslahatan? Apa dengan omong kosongmu kamu bisa mencapai itu? Jika menikmatinya, apa salah jika misalnya memang mampu memberi SEDIKIT kesenangan? 

Mengaku memiliki kecintaan yang besar. 

"I love you super much." Ough

Yakin sudah sebesar itu? Seolah tidak ada yang menyaingi kecintaanmu? There's no love more over God's blessing. Dzat yang membagi cinta pada orang tuamu yang mampu mengasihi sebesar kasih hidupnya. Bahkan lebih dari yang kamu tahu. Kecintaan yang susah dikalkulasi dan dilunasi. Kecintaan tanpa struk pembayaran yang numerik. 

Dunia itu penuh ilusi. Akan hambar jika tanpa omong kosong dan para penganut kebesaran, kesombongan, dan kecintaan. Mereka bersinergi. Menyaingi horizon. 


10/20/2014

Home

Thank to you, Alya. Terimakasih sudah berbagi kebahagiaan dengan aku yang crunchy ini. I miss you, -_- sad to confess

Meskipun aku tahu chat ini tidak akan ada jika tidak ada komik dan novel. Aku memuja kedua itu, karena dengan begitu kamu akan chat denganku. *evilsmirk


Chat diatas berisi tentang Alya yang sedang lelah, suntuk dengan kehidupannya nowdays over there! So far from this place. Mengingat lirik lagu 93 Million Miles dari Jason Mraz "...in life you're gonna go far, If you do it right, you'll love where you are..."

Saat kamu berada jauh dari mereka yang mengasihimu, yang selalu ada di sampingmu, selalu berbagi senyum nestapa, tawa celaka, tangis bahagia...maka lagu ini bukan pilihan yang buruk meski kamu akan menyesal karena kamu ingin pulang setelah mendengarkannya. Seperti pepatah mengatakan, 'Sejauh-jauhnya kakimu melangkah, maka hanya rumah lah tempatmu kembali'. Memang hanya dirumah tempat dimana rindu bertemu, tempat dimana bahagia dilanda, tempat dimana tangis dibelenggu. 

Rumah bukan berarti bangunan yang memiliki tiang, lantai, dan atap. Melainkan tempatmu berbagi keluh kesah, tempat yang memberimu aman, tempat dimana lelah diadu dan diramu bersama kerlingan mimpi. Rumah, setelah sekian lama diturunkan ke bumi, bermain-main dengan kemolekannya, maka tinggal menunggu saja kapan akan kembali ke rumah—ke alam yang paling abadi, disisi Tuhan. Rumah.

Maka bagi mereka yang sedang merindukan rumah, maka lakukanlah apa yang kamu lakukan sekarang dengan benar, sehingga kamu mencintainya, tidak menyesalinya suatu saat kelak, justru merindukan untuk melakukannya lagi. Karena saat jauh dari rumah lah kamu akan amat sangat merindukannya. Karena saat jauh dari Tuhan lah kamu akan sangat ingin mendekatinya. Karena saat jauh dari keluarga lah kamu akan amat sangat mengharapkannya. Rumah lah yang membuat pergi dan rumah lah yang membuat kembali. 


"Pergi bukanlah pelarian tapi cara rumah untuk membuatmu merindukannya..."

10/11/2014

KAMU & AKU


Musim dingin membuatku terlalu malas bahkan hanya untuk keluar dari selimut tebal dan menyiapkan sarapan untukmu yang selalu datang di minggu pagi, ke apartemenku, dan kita akan menikmati sarapan bersama. Hanya setiap minggu pagi.

Dengan sisa-sisa kemalasan kulangkangkahkan kaki mungilku ke dapur. Kunyalakan kompor dan membuat bubur keju kesukaanmu. Kemudian menuangkannya kedalam dua mangkok—untuk aku dan kamu—dan menaburkan potongan daun parsley keatasnya, tak lupa menambah telur setengah matang dan ayam kecap sangrai.

Klik … klik

Itu tandanya kamu sudah masuk kedalam apartemenku. Aku mendengarmu melepas sepatu kulit warna hitammu kemudian mengganti dengan slipper spon yang ada di balik pintu. Melangkah dengan pasti, terdengar semakin dekat.

“Hai,” Aku menghambur ke pelukanmu dan kamu membalasnya dengan menebar senyum ke segala penjuru ruangan. Kamu yang begitu tinggi tak membuatku enggan untuk berjinjit dan menciummu.

Setelah puas memeluk setelah satu minggu tidak bertemu. Aku menjelajah sekilas sosok di depanku—kamu. Yang memakai t-shirt lengan pendek warna biru tua. Dipadu dengan celana cargo yang cocok di kaki jenjang milikmu. Aku menyukai semua yang ada pada pada dirimu. Aku selalu menyukainya. Aku menyukaimu.

“Bagaimana pekerjaanmu?” Itu adalah kalimat yang biasa kamu tanyakan setiap minggu pagi. Aku mau kita tidak akan saling menanyakan hal itu untuk waktu yang lama, karena kita akan hidup bersama. Saling tahu. Karena kita melewati sepanjang minggu—setiap hari—bersama. Suaramu terdengar sedikit berat pagi ini. Mungkin cuaca dingin membuat pita suaramu mengerut.

Aku tidak menoleh kearahmu, kamu tahu aku sedang mencuci piring. Hanya menjawab dan suaraku bercampur dengan suara air yang tumpah dari kran ditambah mangkuk dan sendok yang bergesekkan.

“Cukup baik. Aku masih menulis cerirta-cerita romantis.” Aku tak mendengar kalimatmu lagi. Terkejut saat beberapa detik kemudian kamu sudah memelukku dari belakang. Bersandar di pundakku. Menemaniku mencuci.

Happy ending?” Bibirmu terlalu dekat dengan telingaku membuatku tersenyum geli saat kamu membisikkan kalimat ‘happy ending’. Aku mengangguk.

Cara-cara sederhana seperti itu yang kamu lakukan padaku setiap minggu pagi, rutinitas yang tidak pernah membuatku bosan. Kuharap kamu juga begitu.

Tapi…

Malam tak mengijinkanku menangisimu….

Aku tak menyalahkan siapapun disini. Aku hanya ingin melupakanmu. Melupakan caramu memandangku. Memelukku. Menciumku. Aku ingin melupakan semua itu…
Kamu pergi membawa segalaku untukmu—bersamamu. Lalu apa yang tersisa disini? Hanya kenangan? Aku bisa apa? Sisa sentuhanmu membuatku merindumu. Bayang-bayang senyumanmu membuatku mendambamu. Kerjapan kerlinganmu membuatku selalu mengharapkan kedatanganmu. Kembali ke pelukanku.

Ajarkan aku bagaimana melupakanmu. Aku tidak sanggup. Terlalu melelahkan. Aku lelah berusaha selalu menolak kehadiranmu dalam benakku. Karena dirimu masih bersamaku setiap saat, meski kenyataan hanya aroma parfum yang tertinggal. Hanya sisa keringatmu yang memabukkan disini.

Mengapa begitu cepat? Kurasa aku terlalu cepat jatuh pada jebakan percintaanmu. Antara aku dan kamu. Kurasa aku terlalu banyak menyimpan sayang, rindu, suka-cita, didalam dirimu. Hal itu membuatku kesulitan untuk melampiaskan kini. Jadi kurasa, melupakanmu adalah cara yang lebih baik daripada tenggelam dalam masa lalu bersamamu sementara kita tidak (lagi) bersama.

Aku hanya penasaran. Sejak kapan kamu bersamanya? Bersama dengan dia yang membuatmu meninggalkanku. Mengapa aku tidak tahu? Mengapa kamu tidak memberitahuku? Kamu takut aku marah? Omong kosong. Bagaimana aku akan marah? Kamu bersama dengan penyakit mematikan itu dan hanya diam dan hanya berbahagia denganku, mengapa? Aku tak habis pikir dengan cara berpikirmu.

Aku menangis terlalu banyak pagi tadi, saat kepergianmu. Saat bibirmu tak lagi tersenyum padaku. Saat matamu tidak lagi menatapku. Saat tubuhmu tidak lagi ingin memelukku. Saat tak lagi kudengar suara beratmu yang selalu kurindukan. Saat tubuh tinggimu tidak lagi membuatku berjinjit untuk menciummu. Saat aku satu-satunya yang ingin melakukannya. Aku menyentuh wajahmu. Dingin di pembaringan. Pucat. Kurus tak terrelakan. Selamat jalan.

Selamat jalan, sayang. Kuharap kita adalah jodoh dari Tuhan. Dan akan dipertemukan dengan keindahan surgawi. Dengan jalan yang paling mulia. Aku mencintaimu.